Rabu, 27 Februari 2013

lihat istri dipijat 1

Aku sudah berumah tangga selama sepuluh tahun. Kami telah dikaruniai dua  orang anak laki-laki yang duduk di bangku SD. Istriku berumur 35 tahun. Ia termasuk berukuran kecil, tingginya 159 cm. Tubuhnya ramping, dengan warna kulit kuning langsat dan mulus. Wajahnya, kata teman-temanku, cukup rupawan.

Aku punya kesenangan urut badan. Saat ini aku punya langganan tukang pijat tunanetra. Waktu itu aku mencari tukang pijat tunanetra yang rapi dan bersih. Setelah mencari dan mencoba-coba akhirnya aku menemukan satu yang cocok.
Orangnya bersih walaupun agak hitam. Ia tinggi dengan badan yang besar dan kekar. Namanya Mas Budi.
Waktu pertama aku diurut olehnya, memang kurasakan ia lebih profesional dan pintar mengurut. Pokoknya setelah diurut badanku rasanya enak. Bukan hanya itu, bahkan ia pintar mengurut bagian urat-urat yang menimbulkan rangsangan seksual.
Sambil diurut, aku bercerita kepadanya bahwa barangku tidak bisa keras dan tidak tahan lama. Tak tahunya ia malah menimpali.
“Kalau saya kebalikan bapak. Malah istri saya kewalahan melayani saya… Sampai sambat-sambat dan ampun-ampun.”
“Kok bisa begitu,” tanyaku.
“Mungkin karena saya bisa main lama sekali sampai lima kali…. Mungkin juga barang saya terlalu besar dan panjang,” jawabnya.
“Emang berapa panjang barang kamu?” tanyaku penasaran.
“Saya tidak tahu, wong saya tidak bisa melihat. Yang pokok, kalau saya main rasanya mentok, dan lagi susah masuknya kalau tidak kasih ludah yang agak banyak.”
“Kalau begitu kamu hebat, bisa memuaskan istrimu.”
“Kalau bapak?”
“Yah, saya tidak seperti kamu, mungkin karena punya saya kecil dan pendek.”
Mulai timbul keinginanku untuk menyuruh istri saya dipijat. Saya merayu istri agar ia mau diurut minggu depannya.
“Mas tukang pijat itu pintar, benar-benar mengerti urat. Buktinya badan saya enak sekali setelah diurut,” kataku pada istriku.
Mulanya istriku merasa segan. Malu, katanya. Setelah kubujuk-bujuk, akhirnya ia pun mau.
Minggu berikutnya aku jemput Mas Budi lagi untuk mengurutku di rumahku. Mulailah aku diurut. Sambil diurut, aku bertanya kepadanya.
“Mas, mau enggak ngurut istri saya?”
“Kalau Ibu mau, dan Bapak mengizinkan, saya mau saja. Memangnya keluhan Ibu apa?”
“Ia suka pegel-pegel badannya dan kurang bersemangat dalam masalah seks.”
“Wah, kalau pegel-pegel itu sudah biasa, tapi kalau kurang bersemangat itu mungkin ada kelainan urat. Harus diurut di bagian-bagian urat tertentu, Pak,” katanya. “Apa Bapak mengizinkan?”
“Ya, tidak apa-apa.”
Setelah ia mengurutku, aku panggil istriku. Saat itu waktunya sudah agak malam.
“Ma, ayo, giliran kamu diurut.”
Istriku masuk ke kamar tempat aku tadi diurut, di sebelah kamar utama. Ada jendela penghubung di antara kedua kamar itu yang tertutup dengan gorden. Ia mengenakan kaos putih tanpa lengan dengan kain sarung menutupi bagian bawahnya.
Mulailah istriku tengkurep. Aku tiduran di sebelahnya sambil mengamati. Mas Budi menyingkapkan kain sarung istriku sampai di bagian betisnya, dan mengurutnya. Kemudian Mas Budi menyingkap lagi sarung istriku ke bagian pahanya dan mengurutnya. Aku memperhatikan istriku. Kayaknya ia keenakan dan cocok dengan urutannya.
Ketika Mas Budi memijat bagian paha dan pinggul istriku, ia nampak semakin nikmat. Kelihatan badannya sedikit mengeliat-geliat. Tapi kurasa istriku seperti menahan diri. Mungkin ia merasa tidak enak dengan diriku yang ada di sampingnya.
Supaya istriku tidak canggung, aku keluar kamar dan pamit sama Mas Budi.
“Saya keluar dulu ya, Mas.”
“Silakan, Pak…”
Kemudian aku masuk ke kamar tidur utama. Tanpa sepengetahuan mereka, aku mengintip dari jendela.
Setelah aku keluar kamar, kulihat istriku semakin rileks. Demikian pula Mas Budi. Terdengar suara istriku mendesah-desah.
“Aaah…. Aaah…. Aaah….”
Aku lihat istriku menggeliat-geliat. Mungkin ia mulai terangsang karena ternyata Mas Budi telah menyingkap kain sarung istriku tinggi-tinggi sampai ke bagian bawah sedikit pinggulnya. Tangan Mas Budi kelihatan menggerayangi bagian pangkal paha istriku sampai kelihatan CD-nya.
Tidak, saat itu ia belum berani menggerayangi ke bagian yang lebih sensitif.
Tak lama kemudian Mas Budi membuka ikatan sarung istriku dari bagian atasnya, lalu meremas-remas pinggulnya. Tangannya lalu dimasukkan ke dalam CD istriku. Dipijatinya kedua belah pantat istriku yang masih kencang… Istriku tak menolaknya…! Ia tampak begitu menikmati pijatan Mas Budi. Semakin mendesah-desah dan menggeliat-geliat lah istriku. Barangku pun semakin ngaceng keras.
Kemudian Mas Budi menyuruh istriku telentang. Aku semakin memperhatikannya. Tangan kekar Mas Budi membuka kain istri di bagian pahanya dan nampaklah paha mulus istriku dan CD-nya. Ia mulai mengurut paha istriku sambil meremas-remasnya sampai ke pangkal pahanya. Rupanya Mas Budi memang sengaja merangsangi istriku. Kelihatan tangan kekarnya meremas-remas paha dan pangkal paha istriku sampai ke pinggulnya.
Setelah selesai diurut dan Mas Budi pulang, aku langsung ajak istriku berhubungan badan. Karena memang aku pun sudah tidak tahan, barangku ngaceng keras. Ternyata istriku pun sangat terangsang. Jauh berbeda, tidak seperti biasanya.
“Pa, kok barang Papa keras sekali?”
“Memang Mas Budi itu benar-benar tukang pijat yang hebat dan mengerti urat.”
“Saya juga mas. Kalau begitu, minggu depan kita urut lagi, ya?”
“Ok..” sahutku sambil tersenyum.
Minggu berikutnya aku jemput lagi Mas Budi ke rumahnya. Aku ketemu istrinya. Orangnya tinggi gemuk. Dengan istrinya yang perawakannya seperti itu saja, barang punya Mas Budi sudah mentok dan susah dimasukkan kalau tidak dikasih ludah yang banyak. Wah, kalau begitu, barangnya benar-benar besar dan panjang…. Aku mulai membayangkan, bagaimana kalau barang itu dimasukkan ke lobang istriku yang kecil mungil itu. Bisa menjerit istriku.
Setelah sampai di rumah aku mulai dipijat di kamar yang sama seperti minggu kemarin. Sambil ia memijatku aku bilang padanya.
“Mas hebat, benar-benar mengerti saluran-saluran urat. Istriku tidak seperti biasanya. Aku dan istriku sangat menyukai pijatan Mas Budi.”
“Oh ya, terima kasih, Pak, kalau memang cocok dengan pijatan saya.”
“Aku nanti ada pertemuan bisnis di rumah teman. Tidak apa-apa walaupun tidak ada saya, tetap aja istri saya dipijat. Saya tidak terlalu lama kok. Paling sekitar 3 jam-an saya sudah pulang,” kataku.
Setelah selesai dipijat aku pun mandi. Istriku menyiapkan pakaianku.
Aku bilang pada istri bahwa aku akan pergi dulu sekitar 3 jam-an. Kubilang pula pada istriku untuk tak usah mengantarku keluar. Kutinggalkan istriku bersama Mas Budi di kamar pijat berduaan. Saat itu istriku memakai busana yang sama seperti minggu yang lalu, kaos putih tanpa lengan dengan kain sarung.
Aku pura-pura keluar. Sekitar 15 menit kemudian aku balik lagi ke rumah pelan-pelan dan masuk lewat pintu samping. Aku memang bawa kunci serepnya. Langsung aku masuk ke kamar utama dengan hati-hati. Kubuka gorden pelan-pelan, lalu mengintipnya.
Saat itu istriku sudah dalam posisi tengkurep. Kain sarungnya sudah tersingkap sampai ke pinggul sehingga kelihatan CD-nya. Mas Budi meremas-remas paha istriku sampai ke pangkal pahanya. Suara desahan dari mulut istriku terdengar semakin keras. Tubuhnya pun menggeliat-geliat, membuat Mas Budi semakin gemas. Tangannya yang kekar dengan jari-jarinya yang besar mulai berani mengelus-elus selangkangan istriku.
Tidak lama kemudian Mas Budi menyuruh istriku telentang. Ketika istriku sudah dalam posisi telentang, Mas Budi mulai berani membuka kain sarung istriku sampai ke bagian atas. Tangannya mulai menggerayangi bagian di dekat bibir vagina istriku. Ia menyingkap pelan-pelan CD istriku. Istriku diam dan tampak pasrah. Nampaknya ia pun memang mengharapkannya.
Mas Budi mulai mengelus-ngelus bibir vaginanya dan istriku semakin keras desirannya. Terdengar suara: “Aah… Aah… Aah” dari mulut istriku sambil mengeliat-geliat. Istriku nampak mulai terangsang berat. Kelihatan tangannya menggerayangi selangkangan Mas Budi. Mas Budi pun tampak semakin berani. Ia peloroti CD istriku.
Ia mengelus-ngelus vagina istriku dan memasukkan jarinya ke dalam lobangnya. Begitu jari Mas Budi dimasukkan, istriku menjerit kecil. Ia menggeliat sambil meremas selangkangan Mas Budi dengan gemasnya. Aku panasaran, kayak apa barangnya Mas Budi.
Tidak lama kemudian Mas Budi membuka celananya. Begitu dibuka, aku kaget. Waduh, barang Mas Budi besar sekali dan panjang! Nampak urat-uratnya yang mengeras tegak dan kepalanya yang sangat besar.
Istriku meremas-remasnya dengan sangat gemas karena sudah terangsang berat. Kelihatan vaginanya membasah dengan lendir. Dan Mas Budi dengan gemas juga mengelus dan meremas vagina istriku sambil memasukkan jarinya. Kelihatan Mas Budi mulai meludahi lobang vaginanya sebagai persiapan.
Akhirnya Mas Budi membuka kaos dan BH istriku. Diremas-remasnya kedua teteknya sehingga istriku semakin tidak tahan. Mas Budi sendiri lalu membuka kaosnya.
Kini tampaklah kedua manusia yang berlainan jenis kelamin itu sudah telanjang bulat. Tubuh istriku yang kecil dan putih mulus bersanding dengan badan Mas Budi yang agak hitam dan kekar. Barang saya pun ngaceng mengeras luar biasa. Mas Budi yang berbadan tinggi, besar dan kekar itu mulai naik menindih istriku yang kecil mungil.
Saya semakin penuh perhatian ingin melihat masuknya barang gede Mas Budi ke dalam lobang kecil istriku.
Ia mulai melumasi penisnya dengan ludahnya dan mengarahkan barangnya ke lobang kecil vagina istriku. Ia mulai menekan dan istriku pun menjerit.
“Aaah… sakit, Masss….”
Rupanya Mas Budi sudah sangat tidak tahan. Ia menekan kembali dan istriku menggigit bibirnya. Mungkin ia tidak tahan. Karena Mas Budi menekan kasar, barang besar itu masuk juga, sambil terdengar rintihan istriku diiringi badannya yang tersentak.
Mas Budi mulai menggenjotnya. istriku menggeliat-geliat dalam posisi ngangkang. Mas Budi memeluknya keras-keras, sambil terus mengenjotnya. Makin lama lama makin keras genjotannya. Istriku merintih-rintih di dalam pelukannya sambil menggigit bibirnya.
“Aah… oh… oh… ooh….”
Nampak Mas Budi memeluk istriku dengan gemas sekali. Ia pun menggenjot istriku dengan genjotan yang sangat keras sampai terdengar suara beradunya paha-paha mereka. Prak… Prak… Prak…
Juga bunyi kocokan barang gede Mas Budi ke lobang kecil istriku. Ceprot… Ceprot… Drooot…… Sampai istriku terkentut-kentut. Mungkin karena menahan genjotan yang sangat keras dari Mas Budi.
Akhirnya aku melihat istriku mengalami orgasme. Aku sudah hafal jika istriku orgasme. Suara tertahan mulai terdengar dari mulutnya. Badannya tersentak-sentak. Dipeluknya Mas Budi kuat-kuat sama seperti yang dilakukannya padaku jika ia mengalaminya bersamaku. Erangan panjang keluar dari bibirnya yang mungil.
Yang membuat aku takjub, ternyata istriku mengalami orgasme sampai dua kali beruntun! Aku saja tak pernah bisa membuatnya begitu sepanjang perkawinan kami.
Semakin lama Mas Budi semakin keras genjotannya. Kelihatan istriku ditekuk-tekuk dengan pelukan yang sangat kuat. Sepertinya Mas Budi akan segera klimaks…. Benar saja, akhirnya keduanya berhenti melemas karena mencapai puncaknya. Tapi pantat Mas Budi tetap mendorong-dorong memuntahkan spermanya.
Mas Budi mencium mulut istriku sambil menindih dan memeluknya kuat-kuat. Pinggulnya pun tampak tetap menekan selangkangan istriku. Aku bisa melihat air maninya sampai meleleh keluar dari vagina istriku.
Keduanya lalu beristirahat sambil Mas Budi tampaknya tak mau melepaskan barangnya dari dalam lobang istriku. Tampak mereka berdua mengobrol sambil bertindihan. Aku tak dapat mendengar apa yang mereka obrolkan. Yang jelas tampak beberapa kali mereka tertawa kecil dengan mesranya.
Tak lama kemudian Mas Budi mulai lagi. Digenjotnya lagi istriku, terus sampai 3 ronde. Akhirnya kelihatan istriku begitu lemas lunglai tak berdaya dalam pelukan Mas Budi yang kekar, akibat dari pelukan dan genjotan badan raksasa Mas Budi selama berjam-jam.
Aku sengaja memberi waktu yang cukup luang bagi mereka. Setelah istriku mulai hilang rasa capeknya dengan tidur sejenak dan selesai mandi bareng Mas Budi, barulah aku ‘pulang’ menemui mereka berdua. Saat itu waktu telah menjelang tengah malam. Mas Budi dan istriku sedang minum teh hangat di ruang tamu dalam keadaan segar. Nampak wajah istriku bersinar terang dan berseri-seri.
“Pa, pijatan Mas Budi memang oke sekali…” kata istriku menyambut kedatanganku. “Biar dia datang tiap minggu saja, ya, Pa?”
“Boleh…” sahutku sambil tersenyum. Begitu pula Mas Budi…
TAMAT

3 komentar:

  1. bg pastri bengkulu yang ingin sensasi pijat erotis, untuk pariasi hubungan sex anda, hub andre pijat tradisional bengulu, 085709119884, usia 28th, bersih, sehat,rahasia terjamin

    BalasHapus